Memahami Apa itu Strata Title?

KonsPro (4/9) - PADA awalnya kepemilikan atas tanah itu berasal pada satu strata (tingkatan), yaitu di atas permukaan tanah. Namun perkembangannya, karena peningkatkan kebutuhan masyarakat, kemajuan teknologi, serta keterbatasan lahan, menyebabkan pembangunan hunian dan perkantoran berorientasi vertikal.

Ini kemudian memunculkan persoalan, bagaimana memisahkan kepemilikan-kepemilikan yang ada pada orientasi vertikal, agar masing-masing bisa memilikinya secara terpisah dengan orang lain yang ada di sekitarnya.
Misalnya di sebuah gedung, itu ada lantai 1, lantai 2 hingga lantai 14. Bagaimana mereka memisahkan kepentingan-kepentingan yang ada di situ? Berangkat dari persoalan tersebut, maka timbullah pemikiran, bagaimana kalau di strata-strata berbeda itu dimunculkan hak-hak lain? Begitulah sejarahnya munculnya strata title.

Sebenarnya strata title itu tidak hanya berlaku untuk gedung bertingkat. Di negara-negara maju, terowongan kereta api itu memiliki kepemilikan sendiri-sendiri. Tetapi di Indonesia, secara hukum itu baru diatur untuk pemilikan gedung-gedung bertingkat. Di situ ada kepemilikan-kepemilikan yang dipisahkan, dinamakan ruang. Ruang dari suatu gedung yang bisa diakses dari jalan yang bisa dimiliki secara terpisah, itulah yang dinamakan satuan rumah susun (sarusun).

Tetapi sarusun itu tidak bisa berdiri sendiri, karena masing-masing membutuhkan lorong, struktur bangunan, lift, tangga, taman-taman, dan jalanan. Karena itu kepemilikan dalam sistem rumah susun itu dikenal sebagai hak milik atas satuan rumah susun.

Artinya hak atas ruang yang secara privat dia bisa gunakan tersendiri. Tetapi kemudian dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang dapat digunakan sendiri-sendiri. Tetapi ada fasilitas lain yang harus dipakai bersama-sama, yang dinamakan (istilah hukum) sebagai Bagian Bersama, Benda Bersama, dan Tanah Bersama.

“Bagian Bersama” adalah suatu bagian yang dipakai bersama-sama, yang berada secara struktural pada bangunan gedung. Contohnya koridor, lift, tangga, lobi, parkir di dalam gedung, dan perlengkapan yang ada di dalam bangunan tersebut. Intinya bagaimana agar gedung tersebut bisa beroperasional dengan aman.

Sedangkan “Benda Bersama” adalah bagian-bagian daripada suatu sistem yang dipakai secara bersama-sama, tetapi berada di luar gedung. Contohnya, gardu jaga, pagar-pagar halaman gedung, taman-taman, jalan-jalan lingkungan yang ada di situ, dan parkir yang ada di luar gedung.

Kemudian “Tanah Bersama” adalah tanah dimana bangunan itu berdiri, dengan status bisa Hak Milik (HM), bisa Hak Guna Bangunan (HGB), atau Hak Pakai (HP).

HGB adalah satu hak yang masa berlakunya terbatas, sesuai dengan pemberian yang diberikan oleh pemegang hak dasarnya. Rata-rata pemberian waktu HGB itu 20 - 30 tahun. Kalau HGB di atas Hak Pengelolaan itu sangat bergantung pada pemegang Hak Pengelolaan.

Rata-rata HGB di atas Hak Pengelolaan tidak bisa ditingkat-kan menjadi Hak Milik, kecuali Hak Pengelolaannya dihapus dulu. Pada waktu Hak Pengelolaan dihapus, maka masalah pengurusan hak kepemilikan hanya berhubung-an dengan negara. Ini akan lebih mudah, karena tidak terikat dengan perjanjian-perjanjian dan pihak lain. Meskipun demikian, tetap ada keterikatan. Kepentingan pemerintah/kepentingan umum didahulukan, daripada kepentingan pemegang HGB. (Penulis: Erlan Kallo, Pemerhati Masalah Konsumen Properti)

 

Add comment


Security code
Refresh

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertorial

Topik :
Real Estate
Promosikan Iklan anda dengang text Ads di konsumenproperti.com.

Perumahan Indah
Perumahan Indah dengan taman yang mempesona

Ads by KonsumenProperti

Home | Liputan Khusus | Konsultasi | Komplain | Residensial | Komersial | Bisnis terkait | Infrastruktur
Pembiayaan | Figur | Sengketa | Kolom | Tips | Redaksi | Regulasi | Editorial | Iklan Kolom| Umum | Advertorial