Harga Rumah Terus Meroket

KonsPro (1/7) JAKARTA - PELAMBATAN  harga perumahan yang terjadi secara global tidak memberikan efek domino terhadap harga perumahan di Indonesia. Harga rata-rata perumahan di seluruh kota besar di Indonesia pada kuartal II tahun 2011 masih mengalami kenaikan rata-rata sebesar 10 persen. Harga perumahan di bilangan utara, barat, dan selatan Jakarta bahkan menunjukkan pertumbuhan antara 30 dan 50 persen.

Angka kumulatif kekurangan perumahan di Indonesia ditenggarai masih menjadi penyebab tingginya permintaan perumahan di Tanah Air yang membuat harga perumahan di segmen menengah ke atas mengalami kenaikan.

Sementara itu, meski potensi pangsa pasar rumah menengah ke bawah masih sangat besar, pemenuhan rumah bagi segmen ini masih terbilang kecil seiring dengan bergesernya minat sejumlah pengembang dari membangun rumah menengah ke bawah ke segmen menengah ke atas agar meraih keuntungan yang lebih besar.

Fakky Ismail Hidayat, Senior Assosiate Director Advisory PT Wilson Properti Advisindo, menjelaskan pasar bagi landed house (rumah tapak) golongan rumah mewah masih sangat tinggi. Berdasar karekteristik pasar, permintaan di segmen ini masih tergolong tinggi yang membuat harga-harga perumahan merangkak naik.

Lebih jauh, dijelaskan Fakky, sebagaimana laporan Bank Indonesia (BI) kuartal I-2011 rumah tipe besar mengalami kenaikan harga paling tinggi, yaitu 2,63 persen. Dari 14 kota besar yang disurvei, kenaikan harga paling tinggi terjadi di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi (Jabodebek), serta Banten, yaitu 3,41 persen.

Secara tahunan, harga properti residensial mengalami peningkatan. Harga properti residensial selama setahun terakhir meningkat 4,48 persen tahun lalu, lebih tinggi dibanding dengan kenaikan harga pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,53 persen.

"Kuartal kedua sekarang kenaikannya telah mencapai lebih dari 10 persen, terlebih di Jakarta untuk pasar landed house. Karena keterbatasan lahan, kenaikannya bisa mencapai 30 persen," kata Fakky.

Sementara itu, pertumbuhan harga perumahan di semua kota besar di Indonesia sepanjang kuartal I-2011 adalah 4,5 persen. Hingga kini, dijelaskan Fakky, secara global Indonesia menempati peringkat 14 terbesar dari 50 negara di dunia yang disurvei yang mengalami kenaikan harga rata-rata perumahan residensial. Sebagai salah satu negara di wilayah Asia Pasifik yang mengalami pertumbuhan positif, Indonesia sendiri menempati peringkat ke-6 setelah Hong Kong, Taiwan, Singapura, China, dan Malaysia.

Di sisi lain, pertumbuhan harga yang sebagian stagnan di wilayah Eropa dan Amerika menunjukkan penurunan pertumbuhan tahunannya dari 3,3 persen di kuartal IV-2010 menjadi 1,8 persen di tiga bulan pertama 2011.

"Pelambatan yang bahkan cenderung stagnan berhubungan erat dengan masalah dasar makro ekonomi masing-masing negara yang memengaruhi pasar perumahan, seperti Amerika Serikat yang pada kasus subprime mortage-nya. Secara global, pelambatan pertumbuhan harga tahunan sebesar 1,8 persen sebagian besar juga disebabkan oleh kinerja yang buruk," tambah Fakky.

Dijelaskan Fakky, pada kuartal I-2011, 50 persen dari negara-negara tersebut mengalami pertumbuhan yang stagnan atau negatif, bahkan di antaranya ada yang berpotensi memanas sehingga mengarah kepada “bubble”.

"Vitenam yang sudah bubble. China hampir, tapi karena kebijakan pemerintah China dengan memberikan sejumlah insentif, China dapat terhindar dari bubble," jelas Fakky. Meski begitu, pasar perumahan di China, Taiwan, dan Hong Kong masih berpotensi menyebabkan overheating yang mengarah ke bubble jika intervensi pemerintah seperti di China terbukti tidak efektif.

Fakky juga melihat kelanjutan perlambatan saat ini di pasar perumahan global akan mencapai titik terendah pada kuartal IV-2011 dengan asumsi pasar Asia akan terus melambat dan keberhasilan intervensi pemerintah membuat harga perumahan global yang lambat diharapkan akan pulih kembali di tahun 2012.

Meski sejumlah ahli pasar perumahan di dunia menganggap Amerika memiliki bobot risiko yang terbesar terhadap kestabilan pasar perumahan global, Fakky berpendapat Asia masih berpotensi menimbulkan dampak ancaman risiko.

Fakky optimistis kenaikan harga yang terjadi di Tanah Air belum akan menyebabkan overheating yang mengarah pada bubble. Diakui Fakky, kenaikan pasar properti seperti rumah tapak masih murni diakibatkan oleh tingginya permintaan. Hanya sebagian kecil, dikatakan Fakky, disebabkan oleh spekulan.

Sebelumnya, dalam rilis yang disampaikan Knight Frank House Price Index, harga perumahan di 25 negara dari 50 negara yang tergabung dalam global indeks cenderung bergerak stagnan dan menunjukkan pertumbuhan yang negatif selama tiga bulan pertama tahun ini.

Daerah yang mengalami penurunan terbesar adalah Amerika Utara sebesar 0,4 persen selama tiga bulan pertama, sedangkan secara global harga perumahan hanya tumbuh berkisar 1,8 persen, laju pertumbuhan terlambat terendah sejak kuartal keempat tahun 2009.

Harga rumah di Eropa relatif tidak bergerak pada kuartal pertama. Namun, seperti disebutkan dalam laporan, hasil ini masih lebih baik jika dibanding tahun sebelumnya yang mengalami penurunan rata-rata 4,1 persen.

Bertumbuh Positif

Dalam laporan tersebut juga dipaparkan bahwa secara regional Asia masih menunjukkan pertumbuhan harga yang positif sebesar 8,4 persen selama 12 bulan terakhir, meski pertumbuhan tersebut masih lebih rendah dari tahun sebelumnya sebesar 17, 8 persen.

Negara lainnya yang mengalami kenaikan pertumbuhan harga tertinggi adalah Hong Kong 24,2 persen, India 21,9 persen, dan Taiwan 14,3 persen. Dalam kesempatan terpisah, pengamat properti Ali Hanafiah mengemukakan perkiraan bahwa pasar properti di Indonesia masih akan tumbuh signifikan terlebih untuk sektor rumah tapak. Indikator tersebut, dijelaskan Ali, selain backlog (kekurangan rumah) yang masih tinggi, juga didukung oleh daya beli masyarakat Indonesia yang relatif masih mampu menjangkau tingkat suku bunga bank yang ditawarkan bank

"Tahun 2013 pasar properti, termasuk perumahan, pertumbuhannya baru akan melambat, bahkan bisa berhenti, bergantung situasi ekonomi poltik pada tahun yang memasuki pemilu pada 2014," kata Ali.

Ali optimistis kenaikan harga perumahan yang cenderung naik di berbagai kota di Indonesia masih akan terus mengalami kenaikan pada tahun ini hingga akhir 2012 mendatang. Di Jakarta, Ali bahkan memprediksi di beberapa wilayah di Jakarta kenaikannya bisa mencapai 50 persen. (KoranJakarta)

Add comment


Security code
Refresh

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertorial

Topik :
Real Estate
Promosikan Iklan anda dengang text Ads di konsumenproperti.com.

Perumahan Indah
Perumahan Indah dengan taman yang mempesona

Ads by KonsumenProperti

Home | Liputan Khusus | Konsultasi | Komplain | Residensial | Komersial | Bisnis terkait | Infrastruktur
Pembiayaan | Figur | Sengketa | Kolom | Tips | Redaksi | Regulasi | Editorial | Iklan Kolom| Umum | Advertorial